Webe Girh BioteknologiWEBE GIRH BIOTEKNOLOGI

Home / Blog / Cara Mendapatkan Sertifikat HACCP untuk Produk Minuman: Panduan Lengkap Brand Owner

Legalitas

Cara Mendapatkan Sertifikat HACCP untuk Produk Minuman: Panduan Lengkap Brand Owner

Tim WGB ·

Panduan praktis HACCP untuk brand owner minuman: perbedaan dengan BPOM dan Halal, 7 prinsip dasar, biaya, durasi, dan cara memilih fasilitas maklon bersertifikat.

Ketika seorang brand owner mulai serius membangun produk minuman, satu pertanyaan yang hampir pasti muncul adalah soal sertifikasi. BPOM sudah jelas wajib. Halal juga sudah jadi keharusan di pasar Indonesia. Tapi HACCP? Banyak yang masih bingung: ini wajib tidak? Kalau pakai fasilitas maklon, siapa yang harus urus? Dan seberapa besar dampaknya ke produk di pasaran?

Artikel ini tidak akan menjelaskan HACCP dari sudut pandang auditor atau konsultan ISO. Ini ditulis dari sudut pandang brand owner yang perlu tahu cukup untuk mengambil keputusan bisnis yang tepat, termasuk soal memilih mitra produksi yang sudah beres urusannya.

Apa Itu HACCP dan Kenapa Relevan untuk Produk Minuman

HACCP adalah singkatan dari Hazard Analysis and Critical Control Points. Kalau diterjemahkan secara bebas: sistem yang mengidentifikasi potensi bahaya dalam proses produksi pangan, lalu menetapkan titik-titik kritis yang harus dikendalikan agar bahaya itu tidak sampai ke konsumen.

Sistem ini pertama kali dikembangkan NASA pada tahun 1960-an untuk memastikan keamanan pangan astronot. Sekarang jadi standar global industri pangan dan minuman. Di Indonesia, HACCP sudah diakui dan didorong oleh Badan POM sebagai bagian dari jaminan keamanan pangan, meski belum diwajibkan untuk semua kategori produk.

Kenapa relevan khusus untuk minuman? Karena produk cair punya karakteristik risiko yang berbeda dari produk padat. Kontaminasi mikrobiologis seperti Salmonella, E. coli, atau jamur bisa berkembang lebih cepat dalam medium cair. Proses pasteurisasi atau sterilisasi yang tidak terkontrol dengan baik bisa menyimpan risiko yang tidak terdeteksi di pengujian produk akhir. HACCP dirancang untuk menangkap risiko-risiko ini di dalam proses, bukan hanya di akhir produksi.

Bedanya HACCP dengan BPOM, Halal, dan ISO 22000

Ini sering menjadi sumber kebingungan, terutama bagi brand owner yang baru pertama kali masuk industri pangan. Keempat hal ini memang saling berkaitan, tapi tidak sama.

Izin BPOM adalah izin edar produk. Yang disertifikasi adalah produknya bukan fasilitasnya. Setiap produk dengan merek dan formula tertentu harus punya nomor izin edar BPOM sebelum boleh dijual ke publik. Proses ini dilakukan oleh pemilik merek (brand owner), bukan oleh pabrik produksi.

Sertifikat Halal MUI juga melekat pada produk dan merek. Ini menjamin bahwa seluruh bahan baku, proses produksi, dan rantai pasokannya memenuhi standar syariah.

HACCP adalah sertifikasi sistem keamanan pangan yang melekat pada fasilitas produksi. Kalau pabrik maklon sudah bersertifikat HACCP, itu artinya seluruh proses produksi di fasilitas tersebut sudah diaudit dan terbukti memiliki sistem pengendalian bahaya yang terstruktur. Semua produk yang diproduksi di sana diproses dalam sistem yang terstandarisasi.

ISO 22000 adalah standar internasional manajemen keamanan pangan yang lebih komprehensif dari HACCP. ISO 22000 mencakup HACCP sebagai salah satu komponennya. Fasilitas yang sudah bersertifikat ISO 22000 otomatis sudah menjalankan prinsip-prinsip HACCP.

Singkatnya: BPOM dan Halal adalah urusan brand owner, melekat pada produk. HACCP dan ISO 22000 adalah urusan fasilitas produksi, melekat pada pabrik.

Kapan Brand Owner Perlu Memikirkan HACCP

Ada dua skenario berbeda yang perlu dipahami.

Skenario pertama: brand owner menggunakan fasilitas maklon yang sudah bersertifikat HACCP. Dalam kondisi ini, brand owner tidak perlu mengurus sertifikat HACCP secara mandiri. Yang perlu dilakukan adalah memastikan ini saat memilih mitra produksi.

Skenario kedua: brand owner memiliki atau berencana memiliki fasilitas produksi sendiri. Dalam kondisi ini, HACCP menjadi tanggung jawab penuh pemilik fasilitas. Proses sertifikasinya melibatkan pembangunan sistem dari nol, termasuk rekrutmen tim HACCP, analisis bahaya, penetapan critical control points, dokumentasi, dan audit oleh lembaga sertifikasi terakreditasi.

Untuk mayoritas brand owner minuman yang baru memulai atau masih dalam skala awal hingga menengah, skenario pertama adalah yang paling relevan. Menggunakan fasilitas maklon bersertifikat HACCP adalah cara paling efisien untuk memastikan produk diproduksi dalam standar keamanan pangan yang terverifikasi.

7 Prinsip HACCP yang Perlu Dipahami Brand Owner

Memahami tujuh prinsip dasarnya akan sangat membantu ketika berdiskusi dengan mitra maklon dan mengevaluasi kapabilitas mereka.

  1. Analisis Bahaya. Tim HACCP mengidentifikasi semua potensi bahaya biologis, kimiawi, dan fisik yang mungkin terjadi dalam setiap tahap proses produksi. Untuk produk minuman, ini mencakup kontaminasi bakteri, residu pestisida dari bahan baku, atau serpihan fisik dari peralatan.
  2. Penetapan Critical Control Points (CCP). Dari semua tahap proses, dipilih titik-titik yang jika tidak dikendalikan dengan benar akan menyebabkan bahaya yang tidak bisa dieliminasi di tahap selanjutnya. Pada produk minuman dalam kemasan, proses pasteurisasi atau sterilisasi biasanya adalah CCP utama.
  3. Penetapan Batas Kritis. Setiap CCP harus punya batas kritis yang terukur: misalnya suhu minimum 72 derajat Celsius selama 15 detik untuk pasteurisasi HTST. Kalau batas ini tidak tercapai, proses dianggap gagal.
  4. Prosedur Pemantauan. Bagaimana dan seberapa sering batas kritis ini dipantau? Apakah menggunakan sensor otomatis atau pencatatan manual? Siapa yang bertanggung jawab? Semua ini harus terdokumentasi.
  5. Tindakan Koreksi. Kalau pemantauan menunjukkan bahwa batas kritis terlampaui atau tidak tercapai, apa yang harus dilakukan? Produk dikarantina? Proses diulang? Semua skenario penyimpangan harus punya prosedur tindakan koreksi yang jelas.
  6. Verifikasi. Bagaimana memastikan sistem HACCP berjalan efektif? Verifikasi mencakup pengujian produk akhir, audit internal, kalibrasi peralatan, dan review berkala terhadap seluruh rencana HACCP.
  7. Dokumentasi dan Rekam Jejak. HACCP adalah sistem berbasis bukti. Semua pemantauan, tindakan koreksi, dan verifikasi harus tercatat dengan baik. Rekam jejak ini yang akan diperiksa saat audit oleh lembaga sertifikasi atau oleh pembeli korporat yang mensyaratkan HACCP.

Berapa Lama dan Berapa Biaya Sertifikasi HACCP

Untuk fasilitas yang sudah memiliki sistem GMP dan SSOP yang berjalan baik, proses implementasi HACCP hingga siap diaudit biasanya membutuhkan waktu 3 hingga 6 bulan. Kalau sistemnya harus dibangun dari nol, bisa memakan waktu 6 hingga 12 bulan.

Dari sisi biaya, ada dua komponen utama. Biaya persiapan dan konsultasi berkisar Rp 15 juta hingga Rp 80 juta tergantung lingkup pekerjaan. Biaya sertifikasi dan audit dari lembaga sertifikasi terakreditasi KAN seperti SGS, Bureau Veritas, atau Sucofindo biasanya antara Rp 10 juta hingga Rp 40 juta, dengan surveillance tahunan yang lebih rendah.

Total investasi untuk mendapatkan sertifikasi HACCP dari nol bisa berkisar antara Rp 30 juta hingga lebih dari Rp 100 juta. Ini yang menjadi alasan mengapa bagi brand owner yang baru memulai, bermitra dengan fasilitas maklon yang sudah bersertifikat jauh lebih efisien secara ekonomi.

Keuntungan Produk dari Fasilitas Bersertifikat HACCP

Di pasar retail modern Indonesia, jaringan minimarket dan supermarket besar semakin memperketat persyaratan vendor. Tidak sedikit yang sudah mulai mensyaratkan dokumentasi keamanan pangan dari fasilitas produksi, termasuk sertifikat HACCP, sebagai bagian dari proses listing produk.

Untuk ekspor, manfaatnya lebih signifikan. Negara-negara tujuan ekspor utama seperti Malaysia, Singapura, Timur Tengah, dan pasar Eropa umumnya mensyaratkan bukti sertifikasi keamanan pangan dari fasilitas produksi. Importir di negara-negara tersebut akan meminta dokumen sertifikasi HACCP atau setara sebelum mau melakukan pembelian pertama.

Cara Memilih Fasilitas Maklon yang Sudah Bersertifikat HACCP

  1. Minta dokumen sertifikat, bukan hanya klaim lisan. Sertifikat HACCP yang valid akan mencantumkan nama lembaga sertifikasi, nomor sertifikat, ruang lingkup yang tercakup, dan masa berlakunya.
  2. Periksa ruang lingkup sertifikasi. Sertifikat HACCP harus mencakup jenis produk yang akan Anda produksi.
  3. Tanyakan prerequisite program yang berjalan. GMP dan SSOP adalah fondasi HACCP. Fasilitas yang serius akan dengan mudah menjelaskan sistem sanitasi dan pengendalian hama yang mereka jalankan.
  4. Lakukan kunjungan langsung ke fasilitas. Kondisi nyata fasilitas produksi adalah indikator yang lebih bisa dipercaya dibanding dokumen saja.

PT Webe Girh Bioteknologi adalah salah satu fasilitas maklon minuman di Indonesia yang sudah mengantongi sertifikasi keamanan pangan yang terstandarisasi. Selengkapnya tentang sertifikasi WGB dan standar produksi yang kami terapkan bisa dilihat di halaman tentang kami.

Pelajari juga proses produksi kami untuk gambaran lengkap alur kerja dari formulasi hingga produk siap kirim.

Memulai dengan Fondasi yang Benar

HACCP bukan sesuatu yang perlu ditakuti. Ini adalah sistem yang, kalau dipahami dan dijalankan dengan benar, justru melindungi merek Anda dari risiko yang jauh lebih mahal: produk yang ditarik dari pasaran atau penolakan dari buyer ekspor.

Jika Anda ingin berdiskusi lebih lanjut tentang kebutuhan produksi minuman Anda, tim PT Webe Girh Bioteknologi siap membantu dari tahap konsultasi awal hingga produk Anda siap edar. Hubungi kami dan ceritakan kebutuhan brand Anda.

Tertarik buat produk sendiri?

Konsultasi via WhatsApp ↗

Artikel Terkait